PENDAHULUAN
Literasi meupakan keterampilan individu dalam memahami, mengambil makna dan
menggunakan sesuatu secara cerdas melalui bermacam aktivitas diantaranya membaca, melihat,
mendengar, menulis dan atau berbicara (Faizah dkk., 2016). Abid (2017: 1) kemudian
memaknai literasi berupai kemampuan dalam penggunaan bahasa serta gambar dalam bentuk
yang kompleks dan bervariasi untuk melihat, membaca, mendengarkan, menulis, berbicara,
menyajikan, serta berpikir secara kritis tentang gagasan. Dalam kurikulum 2013, literasi
merupakan aspek penting yang ditekankan pelaksanaannya di sekolah (Sutrianto dkk., 2016).
Demikian pula dalam hal kurikulum mandiri, selain berhitung, literasi juga menjadi fokus utama
saat mengembangkan Kurikulum Merdeka (Putri & Ningsih, 2020).
Literasi mengarah kepada kemampuan serta keterampilan individu untuk membaca,
menulis, berhitung serta mencari solusi suatu masalah dengan keterampilan tertentu yang
dibutuhkan pada kehidupan kita sehari-hari. Literasi yang ideal adalah dimana literasi harus
menjadi budaya. Oleh karena itu, literasi sekolah memiliki harapan untuk beradaptasi dengan
seluruh anak sekolah melalui berbagai kegiatan literasi seperti menyimak, berbicara, membaca
dan menulis. Hal ini sejalan dengan pandangan Wiedart (2016:7) bahwa kegiatan literasi harus
bersifat inklusif dan kolaboratif, melibatkan seluruh welemen yang ada di sekolah, baik siswa,
guru, Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, Komite Sekolah dan orang tua/wali siswa (Faradina,
2017).
Namun, dilihat pada studi Littered Nation In The World 2016 Central Connecticut State
University tentang negara-negara paling renda literasinya di dunia, itu menduduki peringkat ke-
60 dari 61 negara pada aspek membaca. Hal ini dan data meggambarkan bahwa minat baca dan
literasi masih rendah di Indonesia. Bahkan, terpantau masih banyak sekolah yang masih gagal
memaksimalkan kegiatan literasi meskipun sudah digariskan dalam kurikulum.
Pada penelitian ini akan dianalisis bagaimana hambatan yang ditemui guru Sekolah Dasar
dalam menerapkan literasi (Kurniawan dkk., 2019). Penelitian ini lebih ditekankan pada sudut
pandang guru karena guru memiliki suatu peran yang krusial dalam peningkatan budaya
literasi di sekolah. Karena guru merupakan pondasi utama dalam dunia pendidikan maka
menjadi alasan kuat mengapa begitu pentingya peran dari guru. Peran yang dilakukan oleh
seorang guru itu sangat penting dalam mencerdaskan siswa dan meningkatkan literasi siswa. di
dalam sebuah pendidikan guru memiliki peran sebagai seorang fasilitator, motivator dan
sekaligus pembimbing siswa (Chodidjah, 2017). Tanpa adanya peran guru kegiatan literasi di
sekolah tidak akan dapat berjalan dengan optimal.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah deskripsi kualitatif dimana data dikumpulkan melalui teknik
pengisian angket (Wakarmamu, 2022). Responden atau penjawab dari penelitian ini terdiri dari
guru Sekolah Dasar baik di kelas tinggi maupun kelas rendah (Ritel, 2018). Teknik dalam
pengumpulan data yang peneliti gunakan yaitu teknik mengumpulkan data berupa menyebarkan
angket menggunakan Google form. Angket tersebut berisi pertanyaan mengenai hambatan yang
mungkin dialami guru maupun sekolah dalam pembiasaan literasi di kelas (Hamdah, 2018).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kemampuan literasi di sekolah dasar sangatlah penting karena di pada kondisi dunia
sekarang yang semakin kompetitif serta cepatnya perkembangan teknologi dan informasi telah
mengantarkan keterampilan literasi sebagai aspek yang sangat penting untuk setiap orang
(Tohirin, 2012). Kemampuan dan keterampilan individu dalam upaya mempelajari, mencoba
paham serta mengolah informasi menjadi pilar yang penting untuk individu dalam tujuan
peningkatan kognitif, mental, pola pikir serta budi pekertinya (Laksono dkk., 2018).