https://blantika.publikasiku.id/
50
Blantika: Multidisciplinary Jornal
Volume 2 Number 1, November, 2023
p- ISSN 2987-758X e-ISSN 2985-4199
ANALISIS HAMBATAN YANG DIALAMI GURU SEKOLAH DASAR DALAM
PEMBIASAAN LITERASI
Mai Sri Lena
1
, Hana Shilfia Iraqi
2
, Raudatul Adabiah
3
, Fatma Arrahmi
4
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Padang, Indonesia
1,2,3,4
e-mail: maisrilena@fip.unp.ac.id
1
, shilfiahana@gmail.com
2
,
raudatuladabiah724@gmail.com
3
,
fatmaarrahmi@gmail.com
4
ABSTRAK
Pelaksanaan penelitian ini memiliki maksud untuk mengetahui hambatan yang ditemui oleh guru
Sekolah Dasar pada pembiasaan literasi di sekolah. Penelitian ini dilatarbelakangi karena ditemui bahwa
kemampuan literasi siswa di sekolah terutama Sekolah Dasar masih tergolong rendah. Rendahnya
kepandaian literasi anak sekolah dasar terjadi karena adanya hambatan yang dialami oleh guru maupun
siswa dalam penerapannya. Sehingga peneliti melakukan penelitian ini dengan tujuan mengetahui
hambatan yang dialami oleh guru dalam pembiasaan literasi di tingkat Sekolah Dasar. Adapun
penelitian ini tergolong ke dalam jenis deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini yang akan menjadi subjek
yaitu guru Sekolah Dasar yang mengajar di Sekolah Dasar yang berada di Kabupaten Tanah Datar.
Instrumen yang digunakan yaitu berupa pedoman hasil Google form yang telah disebarkan. Analisis data
yang diolahuntuk penelitian ini adalah analisis data kuantitatif yaitu merangkum hasil data dari Google
form yang sudah dideskripsikan. Dari penelitian ini didapatkan bahwa terdapat bebrapa hambatan yang
dialami guru dalam pelaksanaan literasi di sekolah dasar, yaitu berupa kurangnya fasilitas, kurangnya
minat siswa serta kurangnya sokongan dari orang tua siswa.
Kata kunci : Hambatan Literasi; Pelaksanaan Literasi; Sekolah Dasar
ABSTRACT
The implementation of this study aims to determine the obstacles encountered by elementary school
teachers in habituating literacy in schools. This research was motivated because it was found that the
literacy ability of students in schools, especially elementary schools, was still relatively low. The low
literacy of elementary school children occurs due to obstacles experienced by teachers and students in
its application. So the researchers conducted this study with the aim of knowing the obstacles
experienced by teachers in habituating literacy at the elementary school level. This research is classified
as a qualitative descriptive type. In this study, the subject will be elementary school teachers who teach
in elementary schools in Tanah Datar Regency. The instrument used is in the form of guidelines for
Google form results that have been distributed. The data analysis processed for this study is quantitative
data analysis, which summarizes the results of data from the Google form that has been described. From
this study, it was found that there are several obstacles experienced by teachers in implementing literacy
in elementary schools, namely in the form of lack of facilities, lack of student interest and lack of support
from parents.
Keywords: Literacy Obstacle; Literacy Implementation; Elementary School
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-
ShareAlike 4.0 International
[Analisis Hambatan yang dialami Guru Sekolah Dasar dalam
Pembiasaan Literasi]
51
Mai Sri Lena, Hana Shilfia Iraqi, Raudatul Adabiah, Fatma Arrahmi
PENDAHULUAN
Literasi meupakan keterampilan individu dalam memahami, mengambil makna dan
menggunakan sesuatu secara cerdas melalui bermacam aktivitas diantaranya membaca, melihat,
mendengar, menulis dan atau berbicara (Faizah dkk., 2016). Abid (2017: 1) kemudian
memaknai literasi berupai kemampuan dalam penggunaan bahasa serta gambar dalam bentuk
yang kompleks dan bervariasi untuk melihat, membaca, mendengarkan, menulis, berbicara,
menyajikan, serta berpikir secara kritis tentang gagasan. Dalam kurikulum 2013, literasi
merupakan aspek penting yang ditekankan pelaksanaannya di sekolah (Sutrianto dkk., 2016).
Demikian pula dalam hal kurikulum mandiri, selain berhitung, literasi juga menjadi fokus utama
saat mengembangkan Kurikulum Merdeka (Putri & Ningsih, 2020).
Literasi mengarah kepada kemampuan serta keterampilan individu untuk membaca,
menulis, berhitung serta mencari solusi suatu masalah dengan keterampilan tertentu yang
dibutuhkan pada kehidupan kita sehari-hari. Literasi yang ideal adalah dimana literasi harus
menjadi budaya. Oleh karena itu, literasi sekolah memiliki harapan untuk beradaptasi dengan
seluruh anak sekolah melalui berbagai kegiatan literasi seperti menyimak, berbicara, membaca
dan menulis. Hal ini sejalan dengan pandangan Wiedart (2016:7) bahwa kegiatan literasi harus
bersifat inklusif dan kolaboratif, melibatkan seluruh welemen yang ada di sekolah, baik siswa,
guru, Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, Komite Sekolah dan orang tua/wali siswa (Faradina,
2017).
Namun, dilihat pada studi Littered Nation In The World 2016 Central Connecticut State
University tentang negara-negara paling renda literasinya di dunia, itu menduduki peringkat ke-
60 dari 61 negara pada aspek membaca. Hal ini dan data meggambarkan bahwa minat baca dan
literasi masih rendah di Indonesia. Bahkan, terpantau masih banyak sekolah yang masih gagal
memaksimalkan kegiatan literasi meskipun sudah digariskan dalam kurikulum.
Pada penelitian ini akan dianalisis bagaimana hambatan yang ditemui guru Sekolah Dasar
dalam menerapkan literasi (Kurniawan dkk., 2019). Penelitian ini lebih ditekankan pada sudut
pandang guru karena guru memiliki suatu peran yang krusial dalam peningkatan budaya
literasi di sekolah. Karena guru merupakan pondasi utama dalam dunia pendidikan maka
menjadi alasan kuat mengapa begitu pentingya peran dari guru. Peran yang dilakukan oleh
seorang guru itu sangat penting dalam mencerdaskan siswa dan meningkatkan literasi siswa. di
dalam sebuah pendidikan guru memiliki peran sebagai seorang fasilitator, motivator dan
sekaligus pembimbing siswa (Chodidjah, 2017). Tanpa adanya peran guru kegiatan literasi di
sekolah tidak akan dapat berjalan dengan optimal.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah deskripsi kualitatif dimana data dikumpulkan melalui teknik
pengisian angket (Wakarmamu, 2022). Responden atau penjawab dari penelitian ini terdiri dari
guru Sekolah Dasar baik di kelas tinggi maupun kelas rendah (Ritel, 2018). Teknik dalam
pengumpulan data yang peneliti gunakan yaitu teknik mengumpulkan data berupa menyebarkan
angket menggunakan Google form. Angket tersebut berisi pertanyaan mengenai hambatan yang
mungkin dialami guru maupun sekolah dalam pembiasaan literasi di kelas (Hamdah, 2018).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kemampuan literasi di sekolah dasar sangatlah penting karena di pada kondisi dunia
sekarang yang semakin kompetitif serta cepatnya perkembangan teknologi dan informasi telah
mengantarkan keterampilan literasi sebagai aspek yang sangat penting untuk setiap orang
(Tohirin, 2012). Kemampuan dan keterampilan individu dalam upaya mempelajari, mencoba
paham serta mengolah informasi menjadi pilar yang penting untuk individu dalam tujuan
peningkatan kognitif, mental, pola pikir serta budi pekertinya (Laksono dkk., 2018).
[Analisis Hambatan yang dialami Guru Sekolah Dasar
dalam Pembiasaan Literasi]
Vol. 2, No. 1, 2023
https://blantika.publikasiku.id/
52
Tahapan dari penerapan Gerakan Literasi Sekolah dibgolongkan menjadi tiga tahapan yaitu
sebagai berikut (Antoro, 2017).
1. Biasakan Diri Atau Tahap Pembiasaan
Pada tahap pertama, ssatuan pendidikan dalam hal ini adalah sekolah menawarkan
bermacam buku dan bahan bacaan yang mampu membangkitkan minat siswa serta melakukan
kegiatan peningkatan dalam minat baca siswa. hal itu dapat berupa menata ruang dan tempat
area untuk membaca, mewujudkan lingkungan yang kaya akan teks tulisan, disiplin aktivitas
membaca pada 15 menit sebelum dimulainya suatu pembelajaran, melibatkan masyarakat pada
Gerakan Literasi Sekolah (Antasari, 2017).
2. Tahap Perkembangan
Ketika warga sekolah telah mengembangkan kebiasaan membaca, menunukkan bahwa
sekolah tersebut sudah dapat bergerak ke tahap pengembangan yang tujuannya adalah
memperluas keterampilan membaca siswa melalui bermacam kegiatan keterampilan membaca.
Misalnya membacakan cerita dengan memperhatikan intonasinya, mendiskusikan materi,
menulis sebuah cerita dan menggelar kegiatan Festival Literasi (Nugraha & Octavianah, 2020).
3. Tahap Pembelajaran
Pada tahap ini diselenggarakan bermacam aktivitas di sekolah dengan tujuan memelihara
minat baca dan meningkatkan minat baca siswa dengan bantuan buku pengayaan dan buku ajar,
misalnya mengembangkan membaca, menulis sebuah cerita, mengintegrasikan keterampilan
membaca dalam pembelajaran (Kasiyun, 2015).
Pada penelitian ini akan di fokusakan pada tahap pertama, yaitu tahap pembiasaan
literasi. Berdasarkan hasil survei penelitian yang dilakukan menggunakan Google Form
mengenai Analisis Hambatan yang Dialami Guru Sekolah Dasar dalam Pembiasaan Literasi”
yang berisikan 13 pertanyaan mengenai kegiatan litarsi di sekolah dasar yang ditujukan terhadap
guru sekolah dasar baik kelas tinggi maupun kelas rendah (Faizah dkk., 2016).
Dibawah ini digambarkan data perolehan informasi melalui survei Analisis Hambatan
yang Dialami Guru Sekolah Dasar dalam Pembiasaan Literasi”.
Pada pertanyaan yang menanyakan tentang minat baca peserta didik terlihat bahwa minat
baca peserta didik tidak tinggi terlihat dari jawaban lebih dari 80% peserta didik minat bacanya
berada pada level “sedang”.
[Analisis Hambatan yang dialami Guru Sekolah Dasar dalam
Pembiasaan Literasi]
53
Mai Sri Lena, Hana Shilfia Iraqi, Raudatul Adabiah, Fatma Arrahmi
Dari pertanyaan pada survei mengenai ketersediaan fasilitas sebagian besar guru
menawab bahwa di sekolah mereka sudah memiliki fasilitas yang memadai. Namun masih
terdapat 12 % sekolah yang fasilitas literasinya belum memadai.
Pada pertanyaan survei mengenai kegiatan literasi di awal pembelajaran terlihat bahwa
responden dari guru Sekolah Dasar menunjukkan jawaban yang bervariasi. Dimana 56% sudah
melaksanakan kegiatan literasi awal pembelajaran dan 37% hanya melakukan kegiatan tersebut
secara tidak rutin.
Pada pertanyaan tentang semangat peserta didik dalam mengikuti kegiatan literasi terlihat
bahwa sekitar 68% mereka kurang bersemanagt dalam kegiatan literasi.
[Analisis Hambatan yang dialami Guru Sekolah Dasar
dalam Pembiasaan Literasi]
Vol. 2, No. 1, 2023
https://blantika.publikasiku.id/
54
Mendukung data sebelumnya pada minat peserta didik dalam mengunungi perpustakaan
terlihat jelas bahwa peserta didik umumnya tidak begitu berminat mengunjungi perpustakaan.
Dari hasil survei didapatkan bahwa hambatan yang dihadapi guru dalam pembiasaan
literasi diantaranya kurangnya fasilitas, kurangnya minat siswa serta kurangnya dukungan orang
tua. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian sekolah masih belum memiliki fasilitas
pendukung literasi yang baik. Dimana ada yang punya perpustakaan namun ketersediaan buku
masih tergolong sedikit dan belum terbaru. Sesuai survei guru memahami bahwa pembiasaan
literasi di sekolah baik dalam jam pembelajaran maupun di luar jampembelajaran sangat
penting. Namun kurangnya ketersediaan fasilitas pendukung menjadi salah satu faktor penyebab
rendahya atau kurangnya kegiatan literasi di sekolah. Kemudian dari survei juga terlihat lebih
dari 80% siswa memiliki minat baca yang rendah. Hal ini terlihat dari sedikitnya kunjungan ke
perpustakaan dan kurang optimalnya penggunaan sudut literasi di kelas. Menurut pendapat guru
yang di survei para siswa tidak memiliki ketertarikan pada hal membaca karena efek dari masa
pandemi beberapa tahun lalu dimana siswa terbiasa malas membaca dan lebih senang bermain.
Kemudian faktor lain yang menjafi hambatan pembiasaan literasi di sekolah adalah minimnya
sokongan serta perhatian orang tua siswa. Hal ini disebutkan guru bahwa orantua siswa juga
memiliki peran besar dalam mendorong anaknya untuk memiliki minat baca, namun pada
kenyataannya orang tua siswa tidak begitu memberikan perhatian kepada anaknya dalam hal
belajar sehingga kebiasaan belajar siswa hanya ada ketika disuruh oleh guru dan belum menjadi
kebiasaan.
Dalam survei penelitian ini terlihat bahwa faktot utama hambatan guru dalam pembiasaan
literasi di sekolah ini adalah dari segi minat siswa. Dimana siswa memiliki minat baca yang
rendah sehingga menghasilkan kemampuan literasi yang rendah pula. Untuk mengatasi hal ini
bebrapa guru sudah melakukan tidakan khusus seperti pemberian bimbingan khusus kepada
siswa yang memiliki kemampuan literasi yang rendah seperti siswa yang belum lancar
membaca, mengoptimalkan penggunaan sudut literasi di kelas serta pembiasaan literasi pagi
sebelum jam PBM.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil Penelitian Hambatan Yang Dialami Oleh Guru Dalam
Pembiasaan Literasi Di Kelas dadapt disimpulkan bahwa hambatan utama yang menjadi
faktor sulitnya literasi adalah diantaranya kurangnya fasilitas, kurangnya minat siswa
serta kurangnya dukungan orang tua. Untuk menanggapi hal tersebut berdasarkan survei
melalui Google Form para guru juga telah melakukan upaya peningkatan literasi seperti
pemberian bimbingan khusus kepada siswa yang memiliki kemampuan literasi yang
rendah seperti siswa yang belum lancar membaca, mengoptimalkan penggunaan sudut
literasi di kelas serta pembiasaan literasi pagi sebelum jam PBM. Pembiasaan literasi juga
diharapkan mendapatkan dukungan dari orantua siswa karena peran orangtua dalam
pembentukan kebiasaan siswa juga sangat berpengaruh.
DAFTAR PUSTAKA
Antasari, I. W. (2017). Implementasi gerakan literasi sekolah tahap pembiasaan di MI
Muhammadiyah Gandatapa Sumbang Banyumas. Libria, 9(1).
Antoro, B. (2017). Gerkan literasi sekolah: dari pucuk hingga akar sebuah refleksi. Direktorat
Pendidikan Dasar dan Menengah.
Chodidjah, I. (2017). Modul dan Pedoman Pelatihan Fasilitator Gerakan Literasi Nasional.
Jakarta: Kemendikbud.
[Analisis Hambatan yang dialami Guru Sekolah Dasar dalam
Pembiasaan Literasi]
55
Mai Sri Lena, Hana Shilfia Iraqi, Raudatul Adabiah, Fatma Arrahmi
Faizah, D. U., Sufyadi, S., Anggraini, L., Waluyo, W., Dewayani, S., Muldian, W., & Roosaria,
R. (2016). Panduan gerakan literasi sekolah di Sekolah Dasar. Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah.
Faradina, N. (2017). Pengaruh program gerakan literasi sekolah terhadap minat baca siswa di
SD Islam Terpadu Muhammadiyah An-Najah Jatinom Klaten. Hanata Widya, 6(8), 6069.
Hamdah, S. (2018). Problematika Serta Solusi Program Literasi dalam Pembelajaran Bahasa
dan Sastra Indonesia Siswa Kelas VIII SMP Muhammadiyah 44 Pamulang.
Kasiyun, S. (2015). Upaya meningkatkan minat baca sebagai sarana untuk mencerdaskan
bangsa.
Kurniawan, A. R., Chan, F., Abdurrohim, M., Wanimbo, O., Putri, N. H., Intan, F. M., &
Samosir, W. L. S. (2019). Problematika guru dalam melaksanakan program literasi di
kelas IV Sekolah Dasar. EduStream: Jurnal Pendidikan Dasar, 3(2), 3137.
Laksono, K., Retnaningdyah, P., Khamim, K., Purwaning, N., Sulastri, S., & Norprigawati, N.
(2018). Strategi literasi dalam pembelajaran di sekolah menegah pertama: materi
penyegaran instruktur kurikulum 2013 edisi II tahun 2018.
Nugraha, D., & Octavianah, D. (2020). Diskursus literasi abad 21 di indonesia. Jurnal
Pendidikan Edutama, 7(1), 107126.
Putri, I. I. M., & Ningsih, E. R. (2020). Realisasi Gerakan Literasi Digital Sebagai Implementasi
Gerakan Literasi Nasional Di Sekolah Muhammadiyah Pangkalan Bun. Buletin Literasi
Budaya Sekolah, 2(2), 8799.
Ritel, P. S. (2018). Metode Penelitian, Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan R&D,(Bandung:
Alfabeta, 2015), hal. 333 2 Indah Agustina Wynarti,“Pengembangan Permainan Chades
Sebagai Media Pembelajaran Materi Jenis-jenis Bisnis Ritel Kelas XI Pemasaran di SMK
Negeri 2 Buduran.Jurnal Pendidikan Tata Negara, Surabaya, 6(03), 65.
Sutrianto, S., Rahmawan, N., Hadi, S., & Fitriono, H. (2016). Panduan gerakan literasi sekolah
di sekolah menengah atas. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Tohirin, M. P. D. (2012). Metode penelitian kualitatif dalam pendidikan dan bimbingan
konseling.
Wakarmamu, T. (2022). Metode Penelitian Kualitatif.